Jodoh adalah urusan besar. Kita jalankan sebagian besar kehidupan kita dari tahun ke tahun dengan suami/ istri kita. Namun, seringkali memilih jodoh tidaklah mudah, banyak di antara kita yang kebingungan. Untuk mengatasi kebingungan itu, Islam menawarkan solusi yang unik berupa istikharah.
Dengan istikharahlah, kita memohon dipilihkan oleh Sang Mahatahu. Dialah yang sebenarnya tahu mana yang terbaik bagi kita. Yang terbaik? Yang paling membahagiakan kita? Yang membahagiakan tidak sementara saja, tetapi selama-lamanya?
Pasangan hidup yang “suci-bersih”, yang dengannya kita berbahagia selama-lamanya, itu yang bagaimana? Apakah yang “bergelimang harta, berpendidikan tinggi, berkarir cemerlang, berparas elok” dan segala yang bersifat materialis atau lahiriah lainnya? Bukan! Mereka yang bersifat spiritual atau mengutamakan segi batiniah tanpa mencampakkan materi atau segi lahiriah.
Persoalan “Nasib” manusia
Apakah “nasib” manusia telah tetap dan tidak ada apa pun yang mampu mengubahnya sedikit pun? Apakah manusia diberi kehendak bebas untuk mengubah takdirnya? Inilah persoalan “nasib” manusia.
Pertama, takdir bagi manusia telah tetap, apa pun yang dialami. Konon, tidak ada apa pun yang mampu mengubahnya sedikit pun. Manusia adalah pasif, seperti ‘robot’ yang mengikuti perintah dan berjalan di jalur yang tetap. Tidak ada peran manusia di dalam takdir. Segala sesuatu telah ditentukan; tak guna upaya. Kedua adalah manusia diberi kehendak, manusia dikaruniai kebebasan memilih, memilah, dan menjalani pilihannya. Pemahaman ini mengatakan bahwa akdir itu tidak ada.
Yang ideal yang Bagaimana?
Rasul SAW telah memberi informasi bagaimana kita pada umumnya memilih pasangan hidup (suami/istri). Pemilihan kita terutama mempertimbangkan empat faktor:
1.Din/ agama (akhlak)
Begitu pentingnya factor din, sampai-sampai Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kau nikahi perempuan karena kecantikannya. Boleh jadi, kecantikannya itu akan membinasakannya. Dan, janganlah kau nikahi mereka karena hartanya. Boleh jadi, haranya itu akan menjadikannya sombong. Alih-alih, nikahilah mereka karena din-nya. Dan budak yang hitam kulitnya tetapi memiliki di (yang baik) itu lebih utama.” (HR Ibnu Majah)
• Apakah si dia itu menerima keberadaan pacaran islami sebelum menikah ataukah menentang?
• Apakah si dia senantiasa jujur ataukah terkadang berbohong?
2.Keturunan
Keturunan penting dipertimbangkan, terutama jika ada riwayat penyakit genetic, lebih-lebih kalau itu ternyata juga terdapat pada keluarga kita. Jika keduanya digabungkan, kemungkinan munculnya sifat genetic resesif (tidak dominant) yang merugikan akan berlipat ganda. Di antara beberapa penyakit genetic adalah sickle cell (thalassemia) epilepsy, kanker, dan diabetes.
3.Kecantikan
Waj cantik apakah harus? Tidak. Kalau ‘bisa saja’ sudah cukup untuk dicintai, tak perlu meminta yang lebih, bukan? Pastinya kita tak dapat memungkiri keinginan akan adanya perasaan nyaman dan tenang.
4.Kekayaan
Kenapa harta penting? Uang memang tidak menjamin kebahagiaan. Tapi, standar hidup juga kena biaya minimal untuk tidak berhutang tetangga kanan-kiri.
Buat Apa Istikharah?
Dengan sudah gamblangnya kriteria-kriteria untuk mempertimbangkan pemilihan pasangan hidup, untuk apa istikharah? Berikut ini alasan masuk-akal yang layak kita pertimbangkan:
1.Menetapkan hati
Bagaimanapun, kita dikaruniai akal budi. Dahulukan ikhtiar sebelum istikharah. Jangan sia-siakan pemberian-Nya dengan alasan mendekatkan diri pada Tuhan dan ingin selalu melibatkan kehadiranNya dalam segala aspek kehidupan.
2.Mencari ketenangan
Salah satu cara ampuh untuk mendapatkan ketenangan adalah menemukan dan berpegang pada yang kita percaya, yang kita cinta, yang kita yakini dapat membagi kebahagiaan dan ketenangan kepada kita. Nomor satu tidak lain adalah Allah, karena Dialah sumber dari segala sesuatu.
3.Mengambil jarak dari masalah
Bagaimana cara menilai satu masalah secara obyektif dengan tidak melarikan diri darinya? Mengambil jarak, menciptakan ‘kehadiran’ dalam bentuk yang lain. Untuk soal jodoh, yang harus kita pertimbangkan tentu tak hanya calon mempelai, melainkan juga ayah-ibunya, adik-kakaknya, teman-temannya, dan aktivitas kesehariannya. Kita tak dapat mengambil seseorang keuar dari kehidupannya dan menyelipkan sosoknya di jadwal kehidupan kita begitu saja secara semena-mena. Dan, untuk mempertimbangkan berbagai hal ini, anda harus mengingat banyak sisi kehidupan anda dan calon pasangan.
Mengikuti Hasil Istikharah
Ketika kita telah beristikharah, berupaya khusyuk dengan segala upaya, menjernihkan hati dan pikiran dari belitan nafsu dan kecondongan keinginan, tiba saatnya kita melihat ke dalam hati. Apakah lewat mimpi? Jawaban terhadap istikharah tak selalu mimpi. Tak banyak berguna untuk berharap jawaban berupa wajah dan sosok jelas seseorang dalam mimpi saat bergelung tidur setelah bershalat istikharah. Mimpi adalah salah satu bentuk, bukan pertanda yang pasti muncul. Anda memang memiliki pilihan : untuk percaya pada mimpi dan penafsiran anda sendiri.
Apakah di kemudian hari, pelakunya yang mengikuti “hasil istikharah” itu akan menyesal? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Mereka yang menganggap hidup sebagai sebuah pembelajaran mungkin akan menganggapnya ‘hanya’ sebagai satu pelajaran penting. “Ini takdir Allah; pasti ini yang terbaik bagiku”
copas dari : www.id.shvoong.com
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer